Menyikapi Anak yang Banyak Bertanya

0
737
cara menyikapi anak bertanya

Pada usia awal pertumbuhan, anak-anak cenderung memiliki banyak pertanyaan-pertanyaan kritis yang sekiranya sulit bagi beberapa orang tua untuk menjawabnya. 

Pertanyaan-pertanyaan ini juga merupakan pintu utama bagi anak-anak untuk mempunyai nilai belajar yang kuat, memupuk minat baca, dan minat belajar mereka.

Seringkali anak-anak juga terus memberikan pertanyaan, sampai mendapat jawaban yang menghilangkan rasa penasaran mereka. Supaya tidak jatuh ke dalam jawaban yang salah ataupun kurang tepat, maka ada baiknya sebagai orang tua kita perlu menyiapkan jawaban akan pertanyaan-pertanyaan mereka. 

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, ‘seseorang akan menjadi alim-ulama (orang berilmu)’ dengan lisan saul (lisan yang suka bertanya) ’ .

Mulai dari rasa penasaran dan pertanyaan inilah yang kemudian akan berkembang menjadi keterampilan akademik. Maka dalam hal ini, kemampuan belajar mereka akan sangat ditentukan dengan bagaimana kita sebagai orang tua dan guru dalam menyikapi pertanyaan-pertanyaan yang mereka ungkapkan.

Salah dalam menyikapi pertanyaan yang diajukan seorang anak pada usia 4-6 tahun ini juga bisa menjadi faktor mengapa anak malas membaca ataupun belajar. Maka mempersiapkan input yang masuk kepada mereka pada rentang usia ini menjadi sangat penting dalam menentukan tumbuh kembangnya, baik secara mental maupun kecerdasan otak anak-anak kita.

Rasululah ﷺ bersabda, ‘laa yata’allamul ilma al-mustahyi wala al-mustakbir’. Tak akan pernah mendapatkan ilmu seorang pemalu dan orang yang sombong. 

Dari hadis ini kita dapat mengambil ibrah, bahwa rasa penasaran dalam hal yang positif itu perlu. Maka kalau anak kita sedang muncul rasa penasarannya, jangan malah kita tekan rasa penasaran tersebut dengan melarang, atau meminimalisir pertanyaan dan rasa ingin tahu mereka. Karena hal ini dapat menghilangkan rasa percaya diri sehingga berdampak kepada kemampuan belajar anak.

Pada rentang usia ini, anak-anak juga sedang masuk ke tahap kemandirian dan mencari pengakuan, mereka ingin eksistensinya diakui. Hal ini bisa dilihat dari perilaku mereka, seperti berusaha untuk mencuci piring sendiri, mulai mandiri untuk memakai baju, dsb. Pun terkadang mereka mulai marah ketika kita sebagai orang tua ikut membantu, sebab mereka ingin untuk menunjukkan kemandiriannya, diakui eksistensinya.

Dalam masa ini, anak-anak juga mulai memahami kebutuhan kasih sayang, kebutuhan untuk didengar, dan kebutuhan untuk dihargai maupun dihormati.

Seringkali, pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan bukan bertujuan untuk mendapat jawaban, namun lebih untuk mendapatkan kepuasan (isybah).

Dalam ilmu fisiologi (pengasuhan), tahap anak pada usia ini dinamakan marhalatu-tamaddus, usia dimana kita menyiapkan anak untuk masuk ke sekolah. Maka kalau kita ingin anak-anak untuk bisa bersosialisasi dengan baik, ingin bisa mengikuti pelajaran dengan benar, memiliki literasi yang kuat, rentang usia inilah waktu yang tepat untuk memasukan mereka ke sekolah-sekolah terbaik.

Tidak tepat juga untuk para orang tua untuk melimitasi pertanyaan-pertanyaan anak, walaupun pertanyaan tersebut sudah di luar batas. Misal, ‘aku dulu lahirnya dari mana?’, ‘gimana aku bisa lahir?’ dst. 

Mereka punya hak untuk mengatakan apapun yang mereka kehendaki.

Maka pada rentang usia ini, kita beri mereka kebebasan untuk mengucapkan apapun yang dikehendakinya. Dengan catatan, mereka tidak punya hak untuk melakukan apa yang dikehendakinya. Kalau ada tindakan-tindakan yang merusak, harus kita cegah. Pun tindakan-tindakan yang membahayakan dirinya, perlu untuk kita arahkan.

Anak pada usia dini sampai abg, mereka perlu tempat mengadu, curhat, dan mereka memiliki karakter yang perlu di dengar. Maka peran sebagai orang tua, kita perlu menyiapkan diri untuk bisa semaksimal mungkin untuk mendengarkan mereka, mendengar ucapan-ucapan mereka. Hal inilah yang membangun rasa percaya mereka kepada kita, para orang tua. 

Untuk menjawab pertanyaan anak, usahakan untuk selalu menjawab dengan jawaban yang umum. Hindari jawaban yang mendetail. Sebab, sebenarnya mereka itu tidak berharap jawaban detail kita untuk menjadi ilmu baginya, tetapi lebih supaya di dengar. Ingin untuk dihargai, ingin diakui eksistensinya.

Hal yang kurang tepat dan berbahaya adalah ketika kita potong pertanyaannya, kita stop rasa ingin tahu dia, maka secara tidak langsung kita telah memotong kemampuan literasinya, yang dampaknya baru akan terlihat ketika ia sudah besar nantinya. 

Dalam dirinya terbentuk persepsi kepada orang tuanya tentang hal-hal yang negatif, ‘aku ngga diperbolehkan bertanya begini’, ‘aku ngga mendapat respon yang bagus ketika bertanya ke mereka’, dan yang berbahaya adalah, mereka akan mencari jawaban dari pertanyaan itu sendiri, yang bisa jadi ia akan bertanya kepada orang yang salah.

Betapa banyak saat ini, anak-anak muda yang menempuh jalan kekerasan, menjadi teroris, bersikap ekstrem, yang tidak lain sebabnya adalah karena salah dalam mendapatkan input pada pertanyaannya.

Dengarkan semua pertanyaan-pertanyaan mereka, tampung semua rasa ingin taunya. Maka ketika kita mau mendengar dan menanggapi pertanyaan mereka, seberbahaya apa pun itu, maka secara tidak langsung kita sudah membangun koneksi yang baik dengan anak. Secara tidak langsung, kita memberi sinyal bahwa kita siap untuk selalu berada di sampingnya, siap membantunya setiap kali dia mengalami kebingungan ataupun guncangan di dalam hidupnya.

Salah satu karakteristik anak usia 4-6 tahun yang juga sering kita temui adalah berbohong. Maka sebagai orang tua, kita perlu untuk menyiapkan mental kita, jangan sampai marah-marah, bersikap keras, atau malah menghardik. Contoh dekat yang bisa kita temui, misal ketika anak awal baru masuk sekolah, biasanya ia akan mengadukan hal yang sebenarnya tidak terjadi, maka disini penting sekali untuk para orang tua untuk mencari kejelasan (tabayyun).

Maka kalau suatu ketika ada kejadian anak berbohong, ini bukan berarti mereka ingin berbohong. Mereka sama sekali tidak memiliki keinginan untuk berbohong. Tapi ini hanya gejala bahwa ia merasa tidak aman, merasa cemas. 

Hal ini sebagaimana kisah salah satu utusan rasul yang diutus untuk mengambil zakat pada suatu kaum. Karena kecemasannya, ia takut, khawatir untuk dibunuh, maka ia tidak datang kaum tersebut dan mengatakan kepada Rasulullah ﷺ bahwa kaum tersebut tidak mau membayar zakat. Padahal faktanya bukan seperti itu.

Maka kita sebagai orang tua, tugas kita adalah bagaimana menyikapi sikap anak berbohong ini dengan sikap yang positif dan membangun. Mencari tahu sebab apa yang membuat mereka berbohong. Mengidentifikasi gejala apa, cemas, takut, atau kenapa anak tidak jujur. Jangan sampai salah dalam menganalisa. 

Hal inilah sebab kenapa sering kita temui kasus anak 4-6 tahun, atau abg berbohong secara terus-menerus, padahal udah kita nasehati, sudah ditegur. Maka yang kita coba untuk selesaikan adalah gejalanya, bukan inti masalahnya. 

Semoga Allah mengaruniakan kepada kita anak yang cerdas, jujur dan soleh-solehah. Amiin ya Rabbal ‘alamin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini